KL Beef Noodle

Wajarnya orang yang tinggal jauh dari kota kelahirannya pasti ada makanan yang dikangenin. Selain sate yang saya sering kangen yaitu makan baso kuah mamang-mamang pinggir jalan. Kuah panas plus baso yang gurih dimakan dengan mie atau bihun sering bikin saya ngiler hehehe.. Apalagi kalo misalnya ada yang posting-posting mie kuah baso di Path atau FB, puhh cuman bisa sirik.

Di KL sebenarnya sempet nemuin tukang bakso Indonesia, tetapi rasanya belum ada yang cocok. Ada yang emang kurang enak, ada juga yang lumayan, kuahnya ok tapi kok baksonya kerasa banyak banget aci nya, bikin kecewa jadinya. Akhirnya sambil browsing-browsing nemuin kalau ternyata di KL juga ada yang jual mie bakso yang enak, tetapi mereka nyebutnya beef noodle atau mie sapi kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia.

Penasaran akhirnya nyobain deh mie bakso khas KL yang direview oleh salah seorang blogger lokal. Sepulang suami kerja, kita langsung menuju Pasar Seni LRT Station, tempat si beef noodle Sin Kee ini berada cuman perlu jalan kaki sekitar 5 menit dari LRT Station. Yup mie bakso di sini yang jual bukan mamang-mamang tapi ngko2 masih muda, tampaknya ini adalah usaha keluarga, turun temurun. Tempatnya kecil tapi cukup ramai, di temboknya banyak ditempel potongan-potongan koran yanga menunjukkan Sin Kee cukup punya nama, btw untung kita dapat korsi hari itu. Pertama datang kita langsung ditanya mau pesen mie, kwetiaw atau bihun. Lalu mau porsi besar atau kecil, kering atau kuah (dry or soup istilahnya orang sini), dan campur atau hanya bakso saja. Kita berdua sepakat nyoba bihun dry campur.

sinkee 1

Pas dateng baru ngeh maksudnya, campur tuh dalam kuahnya yang bening ada isi daging sapi, urat, babat dan bakso. Sedangkan di atas bihunnya juga dikasi daging cincang yang sudah dibumbui. Pas dicoba surprise banget ternyata kuahnya yang bening sangat gurih. Memang beda dengan gurihnya kuah bakso mamang2 di Indonesia, tetapi saya dan suami sangat menikmati makan di Sin Kee ini. Baksonya juga pas, empuk tidak kebanyakan aci, potongan daging yang dikasi juga sangat lembut. Topping daging cincang di atas bihun juga menambah lezat bihun kering yang kita makan, apalagi dimakan sambil dicampur dengan sambel  yang cenderung agak asam. Slurp slurp… ngebayanginnya.

Walaupun akhirnya kita gak menemukan bakso mamang2 yang kaya di Indonesia, kita berdua akhirnya jadi jatuh hati ma si Sin Kee ini. Kita jadi lumayan sering makan ke sini kalo lagi kangen makan bakso atau kepngin makan yang hangat-hangat. Oh yah selain Sin Kee ada beberapa penjual Beef Noodle yang terkenal di KL yang telah saya coba, yaitu Lay Foong, yang letaknya bersebrangan dengan Sin Kee, Soong Kee di Masjid Jamek, Pudu Beef Noodles di Jalan Brunei tetapi sampai saat ini saya masih setia ma si Sin Kee xoxo.

sinkee 2
Close up dari Kuah Beef Noodle Sin Kee, di kuah beningnya banyak terlihat serabut2 pertanda banyak sari sapi dalam kuah tersebut

Mungkin ketika saatnya saya dan suami meninggalkan KL, Sin Kee bakal jadi salah satu makanan yang kita kangenin banget.

Advertisements

Garlic Butter with Basil

basil

Salah satu herb yang suka ada di pasta adalah basil, dengan menaruh basil di dalam pasta, wangi pasta akan semakin harum dan nge-kick. Sayangnya karena saya cuman berdua, maka basil yang saya beli sering berlebih. Biasanya saya suka campur ke masakan-masakan saya yang lainnya biar wangi. Tapi terkadang gak semua masakan cocok dimakan dengan daun basil. Kalo udah kaya begini bingung dan berasa sayang, karena buat 1 bungkus daun basil harganya lumayan mahal, sekitar RM 5. Kan sayang kalo dibuang gitu aja.

Akhirnya saya iseng, saya masukkan basil ke dalam homemade garlic butter saya. Biasanya saya makan garlic butter untuk dioles di atas roti French baguette, roti prancis yang panjang-panjang itu. French Baguette yang sudah diolesin garlic butter, enak banget buat dijadiin cemilan sore, makan dengan soup atau jadi sarapan pagi.

Cara buatnya juga gampang banget, berikut bahan-bahannya:

  • Bawang putih keprek, buang kulit
  • Daun basil yang sudah dicuci
  • garam dan merica
  • olive oil secukupnya
  • Butter dengan suhu ruangan
  • Cream cheese dengan suhu ruangan (optional)

Caranya masukkan bawang putih, daun basil, garam, merica dan olive oil kedalam blender kering, ato boleh juga chopper ato food processor. Saya sendiri pakai chopper. Banyaknya masing-masing bahan suka-suka, karena saya suka banget bawang putitong saya pakai lumayan banyak bawang putih, Olive oil yang digunakan cukup 1 sendok makan tujuannya biar wangi dan gak terlalu kering campurannya. Aduk bahan sampai daun-daun basil dan bawang menyatu dan terkoyak kecil-kecil.

Setelah itu di mangkok terpisah, kocok butter dan cream cheese agar lembut dan menyatu, lalu masukkan campuran bawang putih dan basil tadi. Cicip kurang asin ato tidak. Pas kita lagi ngaduk bawang putih dengan butter ini, wanginya pasti bikin kita ngiler banget.

20160205_091639_resized
Homemade Garlic Butter with Basil

Tadaaaa.. homemade garlic butter siap dipakai, setelah dioles ke french baguette, saya juga sering menambahkan keju di atasnya, Setelah itu dipanggang sebentar agar si butter mencair dan meresap ke roti dan keju juga mencair di atasnya. Selain di atas roti, saya juga kadang makan bareng kentang yang sudah dipanggang sebelumnya agar cukup empuk dan matang, seperti gambar di bawah ini.

20160101_084644_resized
French Baguette with Garlic Butter

Kalau masih bersisa, garlic butter ini tahan kok disimpen di dalam kulkas, asal pada saat ngambilnya jangan jorok, selalu gunakan sendok kering dan bersih. Saat ini saya masih punya garlic butter yang usianya sudah 1 bulan di kulkas saya dan penampakannya masih baik-baik saja. Saya update kalo semisal si garlic butter tiba-tiba sudah berjamur. =))

 

Kelap Kelip Kunang-kunang

fireflies

Sedari kecil sampai besar, saya tinggal di kota, sehingga di umur yang udah kepala 3… ini belum pernah lihat kunang-kunang, cuman pernah nonton di film, kasihan kali saya… Makanya ketika tahu di Cherating akan ada tour melihat kunang-kunang, yang reviewnya lumayan bagus saya kepingin ikut. Saya penasaran apa seromantis di film-film liat kunang-kunang itu wkwkwk..

Berdua dengan suami, saya ikut tur kunang-kunang di Hafidz Cherating Activities. Acaranya adalah menyusuri sungai mangrove yang dimulai pada malam hari sekitar jam setengah 8 menggunakan perahu bermuatan 10 orang selama kurang lebih 1 jam. Ticket price per orang adalah RM25 per orang. Sebelum menyusuri sungai masing-masing kita dibagikan life vest, sebagai insurance karena perjalanan melihat kunang-kunang tersebut menggunakan perahu menyusuri sungai yang lumayan dalam, malam hari pula.

Sekitar jam setengah 8 malam, peserta diharuskan berkumpul di kantor Hafidz Cherating Activities untuk melakukan pembayaran. Ternyata pesertanya lumayan banyak, mungkin sekitar 50 orang, beberapa ada yang sudah memesan tempat tetapi ada juga yang datang langsung untuk ikut tour. Selain menghubungi langsung kantor Hafidz ini, beberapa hotel termasuk hotel tempat saya menginap, Impiana Cherating Resort juga menyediakan pengaturan tour untuk melihat kunang-kunang ini tapi tentunya dengan biaya tambahan, jadi saran saya lebih irit kalo kita menghubungi langsung ke penyedia jasa tournya.

Sebelum acara menyusuri sungai dimulai, kita diberikan sedikit pengarahan dan tata tertib mengikuti tour tersebut oleh Hafidz sendiri kurang lebih 15 menit. Dia menceritakan, bagaimana dia telah bertahun-tahun meneliti kehidupan kunang-kunang sehingga dia telah mempelajari cara kunang-kunang berkomunikasi dan juga bagaimana dia memulai usaha tersebut untuk mengenalkan kunang-kunang kepada semakin bayak orang tanpa merusak alam sekitar tempat dia berbisnis. Dalam tour ini juga strictly no HP, alasannya binatang kunang-kunang sangat sensitif terhadap cahaya. Mereka berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan cahaya, kalo kita mengeluarkan hp kita yang memiliki cahaya otomatis kita dipikirnya sesama kunang-kunang juga, sehingga bisa membingungkan mereka dan akhirnya membuat kunang-kunang gagal kawin dan beranak pinak. Sayangnya saya dan suami jadi malah tidak punya dokumentasi apapun, karena dari awal sepakat menaruh HP kami di mobil.

Sekitar jam 8-an kita berangkat, 5 perahu menyusuri sungai diterangi sinar bulan yang kebetulan hari itu sedang terang-terangnya bulan purnama. di samping kanan dan kiri sungai dipenuhi dengan hutan-hutan pohon mangrove, semakin kita menjauh dari tempat berangkat semakin kita masuk ke dalam hutan mangrove tersebut. Di sekeliling kita hampir tidak ada cahaya sama sekali, kecuali cahaya bulan, suara-suara mobil dan motor juga mulai digantikan deru mesin perahu, riak air sungai dan suara-suara binatang-binatang yang kita tidak dapat lihat di kegelapan hutan. Semakin jauh kita dari tempat berangkat, kita melihat semakin banyak kunang-kunang di tepi sungai, di ranting-ranting pohon mangrove, kelap kelip.

Awalnya saya pikir seperti inilah tour melihat kunang-kunang itu, melihat kunang-kunang di habitat mereka tapi dari jarak jauh tentunya. Tetapi tiba-tiba di satu tempat yang cukup jauh dari tempat kita berangkat, mesin-mesin perahu dimatikan, semua perahu berhenti dan membentuk lingkaran, lalu tiba-tiba saya tidak mengerti bagaimana caranya, mr. Hafidz yang berbeda perahu dengan saya mengeluarkan semacam senter kecil dengan cahaya orange, dia memanggil si kunang-kunang itu. Ajaibnya kunang-kunang tersebut menghampiri mr. Hafidz ini, sehingga kita bisa melihat kunang-kunang tersebut dari jarak dekat. Pengalaman pertama melihat kunang-kunang yang kelap kelip dan terbang menghampiri perahu kita di kegelapan malam sungguh ajaib.

Beberapa kali mr. Hafidz memposisikan perahunya bersebelahan dengan perahu saya, dengan posisi perahu saya di antara mr.Hafdiz dan kunang-kunang, lalu menyalakan senter pemanggil kunang-kunang, sehingga kunang-kunang tersebut mampir ke perahu dan kami bisa melihat kunang-kunang tersebut. Kita diperbolehkan memegang kunang-kunang dengan lembut. Melihat mereka sangat dekat bahkan mampir di tangan kita, sungguh amazing buat saya. Saya sampai tidak bosan-bosannya berusaha mengundang si kunang-kunang yang terbang di sekitar perahu untuk menghampiri tangan saya. Gak kerasa waktu 1 jam udah habis, kita balik lagi ke tempat awal kita naik perahu. Puas banget hari itu bisa liat kunang-kunang untuk pertama kalinya dan yang saya dengar-dengar ternyata walaupun banyak jasa tour melihat kunang-kunang di Malaysia, tidak semuanya memiliki kemampuan seperti mr Hafidz ini, untuk memanggil kunang-kunang. Beruntunglah saya bisa mengikuti tournya di Cherating ini.

 

Cherating Road Trip

Tahun lalu, 2015, kebetulan hari libur Natal tanggal 25 Desember 2015 nempel dengan hari libur Maulid Nabi tanggal 24 Desember 2015. Mulai awal bulan Desember saya berdua barengan dengan suami baru kasak-kusuk cari tempat liburan. T&C nya yang pertama adalah dekat, kagak pake pesawat karena harga tiket udah mahal banget, juga karena tanggal 26 Desember, hari sabtu, suami udah harus masuk kerja, jadi kita cuman punya waktu 2 hari libur doank dan yang kedua belum pernah kita kunjungi.

Kemana yah? ke Malaka, Ipoh, Penang dan Cameron highland udah pernah. Ide datang dari temen kantor suami yang rental mobil buat ke Penang. Ok dah kita juga pinjam mobil aja, tapi tujuannya ke East Coast Malaysia, daerah yang kita belum pernah datangi. Setelah browsing ternyata di sana sebenarnya banyak pantai yang lumayan terkenal termasuk Redang Island, Kuala Trengganu tetapi karena letaknya di pulau sendiri artinya kita harus sedia biaya lebih untuk sewa kapal boatnya dan juga alokasi waktu yang lebih banyak. Akhirnya pilihan jatuh ke Cherating Beach yang terletak di Pahang, kurang lebih 3 jam perjalanan dari Kuala Lumpur. Dimulai dah kerjaan saya sebagai EO acara jalan-jalan berdua, alias ngumpulin info-info dari blog orang mengenai Cherating.

Singkatnya tanggal 24 Desember kita berangkat pagi-pagi, sekitar jam setengah 8 dari Kuala Lumpur. Sempet kena macet di gerbang highway yang menuju ke Genting tapi setelahnya lancar. Udara hari itu cerah, sepanjang jalan pemandangan pohon kelapa sawit paling banyak kita jumpai. Saya sendiri cukup menikmati perjalanan karena kalau di Indonesia, jalan antar kota biasanya melewati kota-kota singgah, di Malaysia kota-kota tersebut sudah terhubung oleh highway yang jalannya lebar dan mulus, sehingga rasanya perjalanan yang terlihat jauh di peta bisa ditempuh dengan waktu yang sebentar saja.

IMG-20151227-WA0005
Kanan Kiri Sawit, Day-1
IMG-20151227-WA0015
Kanan Kiri masih Sawit

First stop kita sebelum ke Cherating adalah ke kota Sungai Lembing. Sungai Lembing adalah kota pertambangan timah yang terletak di Pahang, kurang lebih 2 jam dari Kuala Lumpur. Sungai Lembing pada masa jayanya sempat dikenal sebagai Eldorado of The East. Sejak 1986 tambang timah di Sungai Lembing sudah ditutup, kota ini pun semakin ditinggalkan penduduknya. Saat ini, Sungai Lembing bertransformasi menjadi kota wisata, dimana kita bisa melihat bekas-bekas kejayaan kota tambang di Museum Tambang Sungai Lembing dan Museum Hidup Sungai Lembing, selain itu Sungai Lembing juga terkenal sebagai tempat untuk melihat sunrise di atas gunung. Tapi saya dan suami hanya akan melihat Museum Hidup Sungai Lembing saja.

20151224_123447_resized

Kita sampai Sungai Lembing sekitar jam 11-12an, rencananya kita mau makan di pujasera, di satu-satunya pasar di Sungai Lembing. Tapi ternyata hampir semua kios penjual makanan sudah tutup, hanya sisa 1 kios. Karena sudah mulai lapar kita makan di kios tersebut yang ternyata kurang memuaskan walaupun harganya terbilang murah. Kita memesan mie goreng dan sesuatu entah apa namanya semacam ifumie tapi menggunakan bihun dengan rasa tomat yang kuat, 2 teh o ice semuanya tidak sampai RM10, standard untuk kota kecil tapi rasa tidak memuaskan.

Setelah makan, kita berkeliling kota Sungai Lembing yang jalan utamanya hanya terdiri dari beberapa rumah toko. Di tengah-tengah kota Sungai Lembing ada pohon besar yang cantik, katanya ini merupakan pohon jodoh. Setelah puas keliling-keliling jalan kaki, kita pergi ke bekas tambang timah yang saat ini telah dijadikan sebagai museum hidup Sungai Lembing.

Biaya untuk masuk ke museum tambang timah ini tidak murah RM60 per orang. Di museum tambang timah ini awalnya kita diangkut menggunakan kereta pengangkut timah yang dulu digunakan pada saat tambang tersebut masih berfungsi sedalam 80m, sisanya kurang lebih 50om kita diminta meneruskan dengan berjalan kaki menyusuri gua bekas tambang tersebut. Suasana di dalam gua, sudah diberi penerangan, sejuk dan sangat lembab. Tidak ada guide yang mengantar kita berjalan di dalam gua tersebut, tetapi di beberapa spot ada petugas yang menjaga. Di sepanjang jalan gaua juga banyak papan-papan keterangan mengenai sejarah gua tambang tersebut. Di beberapa tempat juga banyak patung-patung yang menggambarkan pekerja-pekerja tambang pada jaman dahulu dan artifak-artifak tambang. Beberapa bagian gua juga ada yang ditutup karena panjangnya gua tersebut yang mencapai 322km, bayangkan jarak ini 2 kali jarak Bandung Jakarta. Beberapa bagian gua juga cukup luas dan ada yang tingginya mencapai 8m. Agak ngeri membayangkan kita tiba-tiba terperangkap di gua tersebut.

20151224_135105_resized
Wefie di Living Museum Sungai Lembing

Dari museum tambang Sungai Lembing karena urusan perut yang datang tiba-tiba, langsung kita meluncur ke hotel kami di Cherating. Di Cherating kita menginap di Impiana resort hotel Cherating. Awalnya kita membayangkan Impiana Cherating akan seperti Impiana KLCC yang tampak ok, tapi ternyata tidak. Hotel Impiana Cherating tampak sudah tua dan perlu di renew. Kamar kita sebenarnya cukup bagus dan bersih, tapi kesan dari interiornya yang membuat hotel ini tampak tua. Di belakang hotel langsung menghadap pantai pribadi milik Impiana. Kita menghabiskan sore dengan tidur-tiduran di kamar, nyewa sepeda dan jalan-jalan di tepi pantai. Karena sederetan dengan Impiana adalah resort-resort yang masing-masing memiliki  pantai pribadi, maka pantainya bisa dibilang cukup sepi.

Sesuai dengan informasi yang sudah saya kumpulkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan di Cherating beach, walaupun saya dan suami tidak mengikuti semua kegiatan-kegiatan tersebut:

  1. Melukis batik di Limbong Art, sepertinya kalo saya berniat melukis batik pun akan saya lakukan di kampung halamn sendiri di Indonesia
  2. Melihat tempat perternakan penyu di Turtle Sanctuary, kebetulan hari kedua saya di Cherating hujan cukup deras, bikin kita berdua PW gak mau keluar dari hotel sampai waktu check out.
  3. Menelusuri sungai mangrove untuk melihat flora dan fauna liar yang hidup di ekosistemnya, seperti alasan di atas, hari kedua kita terlalu PW di kamar karena hujan yang cukup deras, lagian malas banget ujan-ujanan naek perahu.
  4. Melihat kunang-kunang di Hafidz Cherating Activities, karena saya belum pernah lihat kunang-kunang maka kita berdua cukup excited ikut kegiatan ini. Lengkapnya saya bahas di tulisan Kelap Kelip Kunang-kunang
  5. Mencoba makanan lokal khas East Coast, satar, lekor dan seafood.

Untuk urusan perut, cari makan malam di Cherating buat saya cukup sulit. Maunya kita makan seafood dan setelah mencari-cari ada beberapa restoran seafood tetapi yang ramai hanya sedikit dan yang paling ramai adalah restoran seafood Warung Awang Ikan Bakar. Ketika kita datang semua meja hampir penuh terisi dan seorang mak cik penjaga warung memberitahu kalo expecting waiting hour 1 jam. Tetapi mengingat hujan di luar sudah mulai turun dan kita melihat tempat makan yang lain tidak seramai warung ini, kita setuju. Ternyata kita menunggu lebih lama dari 1 jam dan pada saat datang, masakan di warung ikan ini tidak seperti yang diharapkan, kita memesan stringray bakar, cumi goreng tepung dan kerang jahe, dan hanya cumi saja yang menurut kita enak. Padahal kalau kita mengendarai mobil lagi kurang lebih 20 menit kita akan sampai di kota Kemaman Trengganu, di mana ada banyak restoran yang masih buka pada saat itu. Sayangnya kita pergi ke Kemaman setelah kita makan malam di warung Awang ini.

Besok paginya hujan cukup deras di Cherating, agak khawatir karena tahun sebelumnya Pahang mengalami bencana banjir yang cukup besar dan highway menuju KL tergenang air sehingga tidak dapat dilewati. Untungnya sekitar jam 10an cuaca mulai cerah dan hujan hanya rintik-rintik.

Saatnya pulang ke KL, sebelum pulang kita membeli oleh-oleh dahulu sekalian ngemil. Kita mencoba satar dan lekor, keduanya makanan khas Cherating. Satar adalah makanan berbahan dasar ikan rasanya mirip otak-otak di Indonesia tetapi dengan rasa santan yang dominan, dibungkus daun pisang, berbentuk segitiga lalu dibakar . Lekor rasanya mirip pempek Palembang tetapi makannya ditemani saus berwarna merah, bentuknya memanjang sekitar 10 cm, paling enak kalo lekor ini baru keluar pengorengannya. Ada juga kerupuk ikan khas Cherating yang menurut saya enak rasanya.

2547731137_47e8ee3159
Lekor yang sudah digoreng*
20151225_131808_resized.jpg
Chicken Curry Hoi Yin Kuantan

Dalam perjalanan kita menyempatkan mampir ke Kuantan, salah satu kota besar di East Coast Malaysia. Kotanya rapi dan bersih, letaknya benar-benar di tepi pantai. Kita mencoba curry mie Hoi Yin yang cukup terkenal untuk makan siang, enak dan gurih kuah karinya. Sepertinya ini makanan terenak selama road trip yang pas buat mengakhiri road trip kami ke East Coast.

*Foto hasil nyomot dari internet, saya lupa ambil gambar

fire_drill_postcard-rf88af6d8c7f548e8b7cd8c1cb71398bd_vgbaq_8byvr_324.jpg

Riiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggggg, this loud and deafen sound that I heard on 20 December 2015, when I was being a potato couch with my husband, we were watching The Empire season 2. Initially I thought, it was someone who opened the emergency exit from the inside, something that sometimes happen in my condominium (don’t ask me why…), but this time the alarm sound was not stopping. I asked my husband to go out to check what happened outside. He went back calmly and said nobody was outside, maybe it just someone had played around with the alarm again he said.

I forced him to go out once again to check since the alarm was still ringing. This time he went back fast and told me to change my clothes and going down with him. He said, just now he had seen our Korean neighbor went down using the emergency stairs. In panic, I told him to bring our reserve money, he packed our passports, i changed my clothes from sleep gown unto t-shirt and trousers. Then using the emergency stairs we going down from our unit in level 9. Using the emergency stairs  made me feel a bit dizzy, but more shocking was, we were welcomed by slightly thick smoke in our condo lobby. Oh no this is not a drill…

We found a lot of people already gather in front of the lobby. Hubby asked what had happened to our condo’s receptionist cum securities at the lobby. The securities obviously seemed confuse, may be the fire drill training always different with real situation. Finally they managed to explain that there was some electricity incident due to our condo’s sauna generator. Seems that someone was not responsible enough to turn it off after used it. After almost 1 hour, we were allowed to go back to our unit, this time using elevator, thanks God.

When we get back to our unit, we put back our passport and the reserve money, and just realized, we had forgot to bring along some important documents just now. Our birth certificate, marriage certificate, many others, even my passport, my husband only bring my passport cover (hmm..careless).

What will happened if this is not only small fire incident, we would have to face a lot of tiring procedure to replace them all. (Yes, I’m Indonesian). Losing money is one thing, but losing your documents is another big thing, especially when you are Indonesian and you live abroad.

This small fire incident has open my eye. The day after, I carefully put all of my documents in one bag. So in the future, we hope, we will be more ready. However, always remember first priority is still our safety, our family’s safety. “Uang bisa dicari, nyawa gak ada gantinya” means you can always find money but you only live once.

Risoles di Bazaar Ramadhan Kuala Lumpur

Ini sebenernya cerita pengalaman saya beberapa bulan lalu. Kira-kira setengah tahun lalu pas bulan puasa, saya dan teman saya, Nini sesama ibu rumah tangga mencoba mencari sesuap rejeki dan pengalaman hidup cie cie… Kebetulan dekat rumah saya di Kuala Lumpur dekat dengan Ampang Park shopping center. Jadi saya dan Nini berinisiatif menyewa kios di bazaar Ramadhan di depan Ampang Park untuk berjualan makanan. Harga sewanya lumayan mahal RM60 perhari termasuk meja dan listrik selama 30 hari bulan Ramadhan termasuk Sabtu dan Minggu.

Modal nekat, kita berdua sesama ex cewe kantoran yang sebelumnya tidak pernah masak ataupun buat kue dalam jumlah banyak, mulai bereksperimen. Kita coba-coba buat dessert khas berbuka puasa dan gorengan seperti agar-agar, ongol-ongol, tahu goreng, risoles, sosis solo dan sekaligus memperkenalkan jualan online kita yaitu mini pies.

Tujuan kita berdua sama, karena baru pertama kali berjualan, yaitu mendapatkan pengalaman, networking untuk memperkenalkan pies kita,  serta at least balik modal.

Setiap hari bazaar tersebut dimulai dari jam 3 sore dan berakhir pada jam buka puasa sekitar jam 7.30 malam. Hari pertama kita berjualan makanan tentu saja kita datang telat. Walaupun kita mulai memasak jam 8an ternyata kemampuan kita tidak sesuai dengan harapan kita berdua, jam 4 kita baru bisa nongol di Ampang Park. Hari pertama puasa, suasana bazaar masih sepi karena kebanyakan orang mungkin berbuka puasa di rumah.

Lokasi Ampang Park seharusnya cukup strategis, karena walaupun Shopping Center ini sudah tua, letaknya berdekatan dengan banyak kantor, pada jam makan siang pun biasanya Ampang Park banyak dipenuhi oleh orang-orang kantoran yang makan siang di sana. Target pembeli saya pun orang-orang kantoran yang mungkin ingin mencoba menu buka puasa yang baru karena yang kita tawarkan adalah makanan-makanan Indonesia.

Selain kita berdua ada 6 kios lainnya. Tiga dari antara mereka menjual sayuran basah sedangkan sisanya termasuk saya menjual kue basah dan juga ada yang menjual minuman. Semuanya berasal dari Malaysia dan etnis Melayu. Sedangkan kita berdua adalah 2 orang Indonesia yang sekali lihat juga tertebak kita berdua Chinese, walaupun kita hampir tidak bisa berbicara Mandarin hehehe…

Sebenarnya kita berdua memerlukan ijin dari pemerintah Malaysia bila ingin berjualan seperti ini, karena pemerintah Malaysia hanya mengijinkan warganya saja. Untungnya Nini menikah dengan warga Malaysia, sehingga kios kami menggunakan nama suami Nini sebagai pemilik dengan saya sebagai teman yang membantu Nini. Saya juga perlu mendapat suntikan typhoid dari DBKL (DBKL= Dewan Bandaraya Kuala Lumpur, semacam lembaga negara yang berfungsi mengatur ketertiban warga Kuala Lumpur) sebagai syarat bahwa setiap pembuat makanan harus bebas dari infeksi typhus untuk menjamin makanan yang saya buat layak konsumsi, karena pada saat itu Nini sedang hamil maka hanya saya yang disuntik. Walaupun syarat suntikan typhus dari DBKL sudah dipenuhi, tetap saja setiap hari kami khawatir karena DBKL bisa saja random melakukan pengecekan dan kami berdua bukan warga negara Malaysia. =P

Setelah berjualan hari pertama kita menyadari dibandingkan dengan tetangga-tetangga kami, jumlah makanan yang kami bawa kalah dari segi jumlah dan penampilan. Semakin banyak jumlah makanan yang dibawa maka semakin menarik bagi pengunjung untuk memilih makanan yang mereka mau. Warna makanan juga mempengaruhi persepsi orang mengenai makanan kami. Jenis makanan kami yang kebanyakan adalah gorengan juga membuat sebagian orang membeli karena dianggap kurang sehat. Tambahan, makanan kami cukup asing di mata orang Malaysia. Wajah kami berdua yang agak oriental juga agak menjadi hambatan menjual karena sebagian pembeli khawatir makanan yang kami jual tidak halal, walaupun kami berusaha menjelaskan bahwa makanan yang kami jual sama sekali tidak mengandung pork and lard. Kita anti mainstream memang wkwkwk =D, Chinese berjualan di bazaar Ramadhan. Bahkan ada aunty Chinese Malay yang bertanya ” There area all Malay, why you Chinese also join this Ramadhan Bazaar?” ketika mendapatkan pertanyaan ini kita berdua hanya dapat tersenyum.

bazaar 7
Nini dan Kios Makanan kita di Bazaar Ramadhan

Walaupun begitu kita berdua tidak putus asa, kita tetap berusaha berjualan makanan yang kita buat. Target kita setiap hari kita harus menjual minimal 150 pcs makanan. Jam kerja kita pun ditambah, bahkan Nini rela menginap di rumah saya untuk menambah jam kerja, karena kebetulan suami saya sedang dinas di luar kota. Tapi karena kemampuan kita berdua yang mungkin belum terasah jumlah 150 unit makanan yang rasanya sedikit pun sulit kita capai. Variasi makanan pun kita tukar-tukar. Makanan yang menurut kita kurang laku kita tukar dengan makanan baru. Kita coba resep baru yang sebelumnya kita belum pernah buat, hitung modalnya, buat dan langsung jual, once menurut kita layak.

Ternyata setelah beberapa hari berjualan, kita menyadari, beberapa pembeli kita adalah orang Indonesia yang bekerja di sekitar Ampang Park. Kita memiliki beberapa pelanggan Indonesia yang hampir tiap hari mampir ke kios kita. Tentu saja makanan kita cukup cocok dengan selera mereka karena sebagian dari mereka tentu kangen dengan jajanan Indonesia. Senang juga snacks yang kita jual bisa sedikit mengobati rasa kangen orang Indonesia akan snack-snack Indonesia. Tetapi di luar orang Indonesia, kita cukup kesulitan menambah pembeli lokal Malaysia.

bazaar 8
Beberapa Snacks yang kita Jual

Kita kembali memutar otak, karena membuat snacks untungnya tidak seberapa, selain menjual snack, kita mencoba menjual nasi dengan lauk pauk. Tetapi kita tidak menjual nasi dengan lauk terpisah, kita menjual nasi kotak yang telah dilengkapi dengan lauk pauk.

bazaar 3
Nasi Kuning ala kita berdua

Setelah 2 minggu berjualan, kita mulai terbiasa dengan ritme jualan kita. Walaupun begitu karena manpower kita hanya berdua maka tetap saja kita kewalahan dengan target kita sendiri. Walaupun kita hampir setiap hari melewatkan jam makan siang kita, tetap saja kita baru bisa nongol di Ampang Park sekitar jam 4-an setiap hari, terlambat 1 jam dari jam buka normal kios-kios tetangga kita. Dagangan kita juga mengalami hari dimana semua ludes dibeli tapi ada juga hari dimana kita hampir membawa pulang semua dagangan kita. Hari Sabtu dan Minggu dimana sebagian besar pembelinya adalah warga lokal dan pengunjung mall, kita tetapkan sebagai hari istirahat, karena ternyata kebanyakan pembeli pada hari tersebut prefer pada jajanan lokal Malaysia.

Singkatnya setelah 1 bulan penuh kita jualan di Ampang Park, closing kita mengalami kerugian. T__T. Bagaimana pun banyak hal baru yang kita pelajari dari berjualan selama bazaar tersebut. Dari susahnya buat makanan yang bikin orang mau beli, gak cuman dari segi rasa, target pembeli kita, strategi jenis makanan yang kita jual, penetapan harga yang kompetitif,  meyakinkan pembeli makanan kita halal dan mungkin next time kita juga harus bisa mengukur kemampuan kita, gak semua makanan yang kita jual harus kita buat sendiri. LOL.

bazaar 6
Muka Kecapean tapi tetap Semangat saya dan Nini

 

 

 

 

 

 

 

 

Homemade Babi Hong

Babi hong atau kew nyuk adalah favorit saya dari jaman kecil sampai sekarang. Makanan ini cukup istimewa bagi saya karena merupakan salah satu masakan mama saya, yang cuman hadir di rumah setahun sekali yaitu pas malam sinciah atau malam tahun baru China. Makanan ini bersama dengan sop hisit, tumis rebung juhi, haysom terbilang istimewa karena harga bahan-bahannya yang mahal dan cara masaknya yang menurut saya cukup rempong.

Untuk membuat babi hong diperlukan daging perut dari babi atau samcan, yang terdiri dari 3 layer, kulit, daging dan lemak. Semakin tipis lemaknya semakin sehat =D.

Bahan-bahan:

  1. daging babi bagian perut (samchan)
  2. juhi kering
  3. jamur shiongkuh kering
  4. bawang putih

Bumbu-bumbu:

  1. garam, gula, merica
  2. kecap manis
  3. saus tiram (hauyuh)
  4. minyak goreng
  5. arak minum (boleh henessy, johnny walker, cognag)
  6. kecap ikan

Caranya:

20150921_113612_resized1. Rendam jamur shiongkuh kering hingga   lembut dengan air hangat, air rendaman jangan dibuang

s_2231024_kombinasicumi

2. Rendam juhi kering hingga agak lembut dengan air, lalu potong kotak-kotak 3x3cm dan beri gurat-gurat di atasnya, agar cantik pada saat dimasak.

20150921_113714_resized

3. Rebus daging babi hingga empuk dan kulitnya bisa ditusuk-tusuk dengan garpu.

4. Angkat daging babi, keringkan kulitnya lalu taburi kulitnya dengan garam dan cuka lalu tusuk-tusuk dengan garpu seluruh permukaan kulit babi tersebut.

20150921_114041_resized
Daging babi yang sedang digoreng bagian dagingnya, bagian kulitnya telah digoreng dan berwarna kecoklatan

5. Panaskan minyak di wajan (memiliki tutup wajan kalo bisa, karena pada saat  menggoreng minyak akan bermuncratan). Sediakan juga baskom berisi air es.

20150921_114729_resized

6. Goreng daging babi dengan kulit menghadap ke bawah hingga cripsy, lalu balik ke bagian atasnya, setelah garing kulitnya, angkat dan masukkan daging ke baskom berisi air es.

20150921_115652_resized

7. Angkat tiriskan, potong-potong sesuai dengan gambar.

20150921_122930_resized20150921_123221_resized8. Potong halus bawang putih. Tumis bawang putih dan juhi, lalu masukkan shiongkuh yang telah lembut berserta air rendamannya, bumbui sesuai selera garam, gula, kecap manis, kecap ikan, saos tiram, merica dan beberapa sendok makan arak minum.  Bila sudah dirasa pas rasanya, masukkan potongan daging, aduk-aduk.

20150921_131348_resized9. Tata daging, shiongkuh dan juhi kering di mangkok lalu tim selama 2 jam, baru kemudian dinikmati.

Karena cara masaknya yang cukup rumit maka harga makanan tradisional Hakka tersebut cukup mahal dijual di restoran-restoran, karenanya bila kita bisa membuatnya sendiri tentu lebih menyenangkan dan mengenyangkan.

Homemade Beefsteak ala Youtube

Me and my husband loves eating and cooking, not a grandeur cooking, only some ordinary dishes. We learn a lot of simple dishes from internet, thanks to Youtube, both of us are fans of Gordon Ramsay. One morning, on New Year 2015 holiday, my husband coincidentally open a video about cooking a beefsteak in Youtube. He was interested and started watching several videos about cooking beefsteak from different connoisseur, Gordon Ramsay, Jamie Oliver, Laura Vitale and many more. Then by the time he finished the video marathon, he had already decided, we will have homemade beefsteak for dinner. YEEEEAAAAYYY.

So we spend our afternoon, strolled on the supermarket alley to buy meat, mushroom and potatoes as side dishes for our dinner. Though we already watched the videos, we still had no idea what kind of meat we should buy. Finally we bought two kind of meat, Australian grass fed rib eye and sirloin both weighted around 250-300 gram, two potatoes, three kind of mushroom; enoki mushroom, cremini mushroom and white button mushroom.

The left meat is sirloin, the right is rib eye

We cooked the potatoes first, since referred to Gordon Ramsay video, they need longer cooking time compare the meat and mushroom. The potatoes are needed to peel off, cut into several pieces, and boiled in salted water for around 10 minutes, then give some cumin, salt and chili flakes before put in the oven for another 40 minutes.

According to the video, cooking the meat are very simple, we only need to give salt and pepper over the meat, spread over using our hand, no other spice. You just need to heat the pan and give some olive oil then cook the meat until the color changes to brown, rest in the plate for several minutes. However, in real, we still have difficulties to determine the cooking time, we afraid we can manage to get the medium cook meat that we want, either it was undercooked or overcooked.

image4
Left is Sirloin, Right is Rib Eye, we sill can see the red color inside the meat

After we finished cooking the meat, we can use the remain oil to cook the mushroom. We got quite enough oil that release from the meat, we only put some garlic and sauté the mushroom. By the time the mushroom ready, our potatoes also ready to get out from the oven. I’m satisfied for our first try to cook homemade beefsteak, both in medium cooked, we still can see red color inside our meat, baked potatoes and sauté mushroom. Overall, the 40RM beefsteak turnout very juicy and chewy, the 10RM mushrooms a bit too salty but taste really good, and the 3RM potatoes are nice too.

image2
Our Dinner, Homemade Beefsteak, Saute’ Mushroom and Baked Potatoes. (ignore the instant gravy, we almost didn’t use it since our steak already taste delicious)

People said, eat with the one u love will increase the food taste, but cooking then eating with the one u love has the very best taste food, of course it happen only if the cooking success ..LOL.^__^

Better Indomie Goreng

indomie_variety

Indomie is the biggest Indonesian brand for instant noodles, last time I read (2014) it is also the biggest instants noodle brand in the world. No need to explain, I believe every Indonesians know about Indomie. They have a lot of varians from simple one like Indomie Goreng (fried noodle), Indomie Ayam Bawang (chicken garlic noodle) to authentic one like Indomie Kuah Baso (meatballs noodle), Indomie Kari (curry noodle), Indomie Soto, Indomie Dendeng Balado and many more. Personally I like Indomie Goreng the most. I used to cook Indomie Goreng as instructed in the packaging. First you boiled the water, put in Indomie, open the seasoning, chilli sauce, soy sauce, fried shallots packages put all in the bowl/plate, then after 3 minutes just take out Indomie, strain nicely then mix with the sauce.

My husband is the one who introduced me with how to cook better Indomie Goreng. Being far from home for more than 10 years made him capable enough to do some house chores including cooking, hi3x I am a lucky wife. He teach me, more step to cook Indomie before you can enjoy better Indomie.

After the last step that I mentioned above, I should prepare the pan, put in some cooking oil over it, take an egg, wait until the oil hot enough, then just break the egg on the pan, put in Indomie that already mixed with the seasoning, sauce, chili and fried shallot, mixed them all. For final touch give some sambal ABC as per your preference, mixed them all. Then voila, you successfully cooked a better Indomie with my husband version.